Kerajaan Tarumanegara

Back
Next

Perkembangan Kerajaan Tarumanegara

Menurut N. J. Kroom, kerajaan Tarumanagara berasal dari kata tarum. Tarum adalah nama sunda dari tumbuhan indigo. Ia berpendapat demikian karena mayoritas kerajaan-kerajaan di nusantara berasal dari nama buah, contoh nama kerajaan Majapahit berasal dari buah maja yang berasa pahit. Analisa Krom ini didukung oleh Willemine Fruin-Mees. Tetapi asumsi ini dibantah oleh De Graaf yang menganggap Tarumanegara berasal dari nama sungai, yaitu sungai Citarum.

Didirikan oleh Jayasinghawarman di tepi sungai Citarum yang sekarang masuk dalam  Kabupaten Lebak Banten. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M.  Banyak berita dari bangsa asing yang mengungkap adanya Kerajaan Tarumanegara. Salah satu berita dari Claudius Ptolomeus. Dalam bukunya Geographyke Hyphegesis, ahli ilmu bumi Yunani Kuno ini menyebutkan bahwa di Timur Jauh ada sebuah kota bernama Argyre yang terletak di ujung Pulau Iabadium (Jawadwipa=Pulau Jelai=Pulau Jawa). Kata Argyre berarti perak, diduga yang dimaksud adalah Merak yang terletak di sebelah barat Pulau Jawa.

Two Vishnu statues discovered in Cibuaya site, Karawang, West Java. Estimated originated from Tarumanagara kingdom c. 7th-8th century CE. Collection of National Museum of Indonesia, Jakarta Inv. 7974 and 8416. Vishnu is Hindu god of preserver, the tubular crown bears similarities with Cambodian Khmer art.
Two Vishnu statues discovered in Cibuaya site, Karawang, West Java. Estimated originated from Tarumanagara kingdom c. 7th-8th century CE. Collection of National Museum of Indonesia, Jakarta Inv. 7974 and 8416. Vishnu is Hindu god of preserver, the tubular crown bears similarities with Cambodian Khmer art.

Kabar lainnya datang dari Gunawarman, seorang pendeta dari Kashmir yang mengatakan bahwa agama yang dianut rakyat Taruma adalah Hindu. Berita dari Cina yang dibawa Fa Hsien dalam perjalanannya kembali ke Cina dari India menyebutkan bahwa rakyat di Ye-Po-Ti (Jawa=Taruma) sebagian besar beragama Hindu, sebagian kecil beragama Buddha dan Kitters (penyembah berhala). Adapun berita dari Soui (Cina) menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari Tolomo (Taruma) ke Cina. Dari berita Fa-hsien pada awal abad ke-V, di Tarumanagara terdapat tiga macam agama, yaitu agama Buddha, Hindu, dan agama kotor (Yang disebut “agama kotor” adalah agama Siwa Pasupata. Pendapat lain menghubungkan agama kotor itu dengan agama orang Parsi yang mengenal upacara penguburan dengan menempatkan jenazah demikian saja didalam hutan.).  Agama Hindu paling banyak diketahui karena diperkuat pula oleh bukti-bukti prasasti dan arca.

Puncak kejayaan kerajaan Tarumanagara terjadi ketika dipimpin oleh Purnawarman. Sebelum Purnawarman memimpin, Tarumanagara telah menjalin hubungan perdaganan dengan Cina. Hal tersebut menjadi salah satu contoh berkembangnya kerajaan Tarumanagara. Salah satu barang yang diperdagangkan kulit penyu yang digemari oleh saudagar cina. Selain kulit penyu masyarakat Tarumanagara juga memperdagangkan emas dan perak. Dengan adanya perdaganan emas dan perak dapat dikatakan Tarumanagara sudah mengenal pertambangan dan perniagaan dengan daerah lain.

Ketika dipimpin oleh Purnawarman yang bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhima Prakarma Suryamaha Purusa Jagatpati, Tarumanagara mencapai puncak kejayaannya. Kemasyhuran Tarumanagara diabadikan didalam Prasasti jaman Purnawaraman, tentang dibangunnya pelabuhan dan beberapa sungai sebagai sarana perekonomian. Pada masa Purnawarman, Tarumanagara juga memperluas kekuasaan dengan menaklukan raja-raja kecil di Jawa Barat yang belum mau tunduk.

Back
Next