Tjokroaminto mengungkapkan bahwa dasar dari Sosialisme Islam adalah terletak pada keutamaan nilai persamaan dan persaudaraan dalam kemerdekaan bagi setiap manusia dihadapan penciptanya. Sosialisme Islam tidak pernah melakuan tindakan pemaksaan terhadap setiap orang.

Tulisan-tulisan Politikus Modernis semacam HOS Cokroaminoto tidak populer dibandingkan tulisan-tulisan ulama Timur-tengah yang lebih konservative dengan pemahaman politik yang cenderung kepada Monarki Absulut atau Otoriterian.

Lahir di desa Bakur, Madiun Jawa Timur 16 Agustus 1883, Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang lebih familiar dengan sebutan H.O.S Tjokroaminoto adalah guru besar dari pergerakan modern pada awal abad ke-20. Keberadaan dirinya sebagai ketua Sarekat Islam (SI) banyak diamini sebagai seorang pelopor pergerakan nasional yang menolak tunduk terhadap Belanda melalui pengorganisasian modern dalam sejarah pergerakan nasional. Ia juga dikenal sebagai guru bangsa karena setidaknya 3 tokoh nasional dengan ideologi berbeda pernah menjadi murid politiknya, Soekarno, Kartosuwirjo, dan Sema’un.

Muncul sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, Tjokroaminoto  menjadikan dirinya sebagai tokoh pergerakan fenomenal pada masa awal pergerakan modern di Indonesia. Menurut P.F Dahler salah seorang pemimpin nasionalis berkebangsaan Belanda[1], Tjokkroaminoto adalah harimau mimbar yang pidato-pidatonya dapat memukau pendengarnya sampai berjam-jam. Dengan postur tubuh yang tegap, penampilan yang berwibawa, dilengkapi dengan suara yang berat dan bahasa yang teratur menjadikan dirinya sebagai tokoh massa yang sangat disegani oleh pihak penjajah pada masa kolonial. Kharisma dan kemampuan inilah yang suatu hari nanti akan menurun kepada salah satu muridnya sang proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno.

Cikal bakal keluarganya berasal dari Ponorogo, desa Tegalsari. Kakeknya, Raden Mas Adipati Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo. Sedangkan ibunya adalah anak seorang ulama di daerah Madiun, bernama Kiai Bagus Kasan Besari. Kakek dari pihak ibunya adalah keturunan ulama kenamaan pada penghujung abad kesembilan belas yang ikut serta dalam mendakwahkan pengajaran Islam di wilayah Keresidenan Madiun, Ponorogo, dan bahkan ke kawasan Jawa Timur.[2]

Kesadaran nasionalisme Tjokroaminoto telah tumbuh semenjak dirinya masuk ke sekolah OSVIA Magelang yang menyiapkan murid-muridnya untuk menjadi abdi pemerintah kolonial. Di sekolah pegawai Pamong Praja inilah, Tjokroaminoto banyak menyaksikan perlakuan yang berbeda antara pribumi dan anak-anak Belanda. Tiga tahun selepas kelulusannya dari OSVIA, Tjokroaminoto bekerja sebagai seorang juru tulis di Kepatihan Ngawi, bahkan ia berhasil menduduki jabatan sebagai seorang Patih. Tetapi, karena terdorong oleh keinginan hatinya Tjokroaminoto memutuskan untuk berhenti dan pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah perusahaan Belanda.[3]

Di kota inilah kesadaran nasionalismenya  sebagai pemuda yang terjajah di negerinya sendiri mulai tumbuh. Bergabungnya Tjokroaminoto di SDI yang berdiri pada tahun 1905 di bawah pimpinan seorang ulama dan pengusaha H. Samanhudi. Menjadikan dirinya cepat dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan yang radikal dengan karena sikapnya yang menentang perlakuan kesewenang-wenangan oleh pemerintah kolonial terhadap penduduk pribumi di Hindia Belanda. Sikap kesewenangan dari pihak kolonial inilah yang juga membuat dirinya meninggalkan pekerjaannya sebagai abdi di Pemerintahan Hindia Belanda.

Berbekal tinta dan kertas, dirinya memutar haluan dengan menekuni dunia jurnalistik pada tahun 1907[4]. Melalui beragam tulisannya yang termuat dalam berbagai media Tjokroaminoto mengkritik ketidakadilan pihak penjajah terhadap kaum pribumi. Menurut pemikiran Tjokroaminoto, kesadaran nasionalisme dapat tumbuh dan berkembang melalui usaha peningkatan rasa persatuan masyarakat pada tingkat natie (bangsa), dan melalui kebijakan menentukan pemerintahannya sendiri, atau setidaknya melalui pemberian hak kepada masyarakat bumiputera untuk mengemukakan pendapatnya dalam masalah-masalah politik.[5] Hal ini dikemukakan dirinya dalam kongres nasional Sarekat Islam (SI) di Bandung Tahun 1916. Ia mengemukakan bahwa, “Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makan hanya disebabkan karena susunya.” Dalam pernyataan tersebut jelaskah bahwa Cokrominoto mengkritik keras adanya sikap sewena-wenana yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial yang mengeluarkan peraturan di Hindia Belanda tanpa adanya partisipasi dan mendengarkan aspirasi penduduk pribumi.[6]

Sosialisme Islam

Sebagai kaum pemuda dan terpelajar dari penduduk pribumi, Tjokroaminoto sangat menentang tindakan ketidakadilan yang diberlakukan oleh pemerintah Belanda yang sewena-mena terhadap hajat hidup masyarakat pribumi yang terjajah. Baginya, tindakan yang dilakukan oleh pihak kolonial tidak lebih dari tindakan para kapitalis yang hidup sebagai benalu di atas kesuburan tanah air orang lain. Menurut Tjokroaminoto[7], kesejahterakan masyarakat yang adil dan makmur bisa tercapai melalui pelaksanaan Sosialisme Islam. Beliau mengemukakan bahwa cita-cita sosialisme di dalam Islam tidak bisa disamakan dengan sosialisme yang muncul dan digembar-gemborkan di Eropa. Sosialisme Islam lebih tua dan paripurna terutama menyangkut asas-asas humanisme dan persamaan hak dihadapan Tuhan.

Menurut pendapatnya, Islam adalah sebenar-benarnya agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan dasar-dasar hukum yang bersifat sosialistik bagi tiap pemeluknya. Islam secara agama tidak membeda-bedakan manusia dari ras, suku, bahasa, warna kulit, dan status sosial seseorang. Islam sebagai agama, sebagaimana yang diyakini oleh dirinya adalah penghormatan setinggi-tingginya terhadap persamaan hak dan derajat manusia di hadapan Tuhan. Islam tidak mengkultuskan adanya kasta, bahkan mengutuk keras terhadap sikap membeda-bedakan manusia berdasarkan kelas sosial. Dalam intisari pemikiran Sosialisme Islam yang diyakini oleh Tjokroaminoto. Ada tiga bentuk yang menjadi pondasi Sosialisme Islam secara fundamental, yaitu;[8] kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-qualty), dan persaudaraan (broederchap-fraternity).

Dari ketiga intisari tersebut, Tjokroaminto mengungkapkan bahwa dasar dari Sosialisme Islam adalah terletak pada keutamaan nilai persamaan dan persaudaraan dalam kemerdekaan bagi setiap manusia dihadapan penciptanya. Sosialisme Islam tidak pernah melakuan tindakan pemaksaan terhadap setiap orang.

Hal terpenting dalam ajaran Sosialisme Islam menurutnya adalah persoalan etika dan perangai tingkah laku seseorang dengan adanya perbaikan terhadap prilaku dan nafsu yang tidak baik di dalam sistem masyarakat. Sebab dirinya yakin bahwa kesejahteraan dan keadilan akan timbul melalui sifat dan perangai yang baik di dalam kehidupan. Sebab asas-asas sosialis dapat tumbuh dan berkembang dengan baik ketika adanya anjuran dan tindakan yang prilaku baik melalui individu dalam membentuk sistem kemasyarakatan yang sosial-religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan demokrasi, dan musyawarah untuk mufakat serta tidak berdasarkan kepada aturan pertentangan kelas yang justru dipakai sebagai sarana penindasan di negara-negara Barat akibat adanya konflik dan gesekan kelas di dalamnya.

Sebagaimana salah satu nasehatnya,[9]Larena mangan sadurunge wareg”. Agar setiap generasi sadar untuk menghindari sikap rakus dan serakah, serta bertindak aji mumpung untuk memperkaya diri menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Dalam hal bernegara HOS Cokroaminoto menegaskan, meskipun satu tatanan negara dibentuk dengan konsep Republik ataupun Monarki dengan Parlemen, dimana keduanya menggunakan prinsip Demokrasi, akan tetapi peraturan yang dibuat oleh manusia akan mengakibatkan ketimpangan-ketimpangan. Dimana yang terjadi peraturan selalu akan memihak kepada kaum yang kuat dan kaya, bukan kepada rakyat miskin.

Berbeda jika negara tersebut ditata berdasarkan Islam (Negara Islam) dimana didalamnya tertata sistem sosialistik yang sejati. “Kerajaan (Staat) ada didalam genggaman sekalian orang Ra’yat (Ummat), yang semuanya berta’luk dan menurut satu hukum, bukan bikinan manusia, tetapi Hukum yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Luhur, dan Maha Adil, yaitu Qur’an Suci, yang hingga kini dan sampai akhir zaman masih tetap dan akan tinggal tetap didalam kesuciannya yang semula”

Pada masa kini, ketika banyak berdatangan ke Indonesia kelompok atau organisasi yang didirikan di Timur Tengah, dimana mereka tumbuh di dalam satu negara yang buruk dalam tatanan Demokrasinya, bahkan konsep sosialisme yang subur cenderung kepada Marxisme, sehingga mengakibatkan terminologi Demokrasi ataupun Sosialisme terdistorsi dan terstigmatisasi. Banyak Ulama atau pemimpin diantara mereka mengharamkan konsep keduanya diakibatkan pemahamannya yang parsial setelah mereka mengalami kondisi yang buruk oleh perlakuan pemerintahan di negaranya itu. Serta minimnya Ulama diantara mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh konsep Politik dan Ketatanegaraan di Madinah pada masa Rosulullah. Dan ketidak mampuan mereka dalam melakukan studi komparatif (melakukan perbandingan ilmu) yang independent.

Pemahaman ini kemudian menjadi dominan di kalangan aktifis Islam di Indonesia. Dimana pada masa kini Tulisan-tulisan Politikus Modernis semacam HOS Cokroaminoto tidak populer dibandingkan tulisan-tulisan ulama Timur-tengah yang lebih konservative dengan pemahaman politik yang cenderung kepada Monarki Absulut atau Otoriterian. Sering kali mereka tidak memahami sama sekali terminologi “Demokrasi” atau “Sosialisme” sehingga mereka tidak pernah mencoba mengkomparasi atau bahkan menggunakannya sebagai term Da’wah, saat mereka melakukan aktifitas gerakan.

Bahkan beberapa organisasi pergerakan islam akibat ketidak mampuan memahami kedua term tersebut (dan ini sudah menjadi doktrin), melakukan propaganda negatif dengan mendeskriditkan dan mengharamkannya meski dalam bentuk atau isme apapun. Sedangkan kedua term tersebut merupakan term paling populer didalam komunitas politik. Kondisi yang mengakibatkan terjadinya ketidak sinambungan informasi ketika mengenalkan konsep Rosulullah dalam hal politik dan ketatanegaraan kepada kalangan mereka (komunitas politik).

Satu hal yang tidak pernah terjadi pada masa keemasan Partai Syarikat Islam Indonesia saat dipimpin Cokroaminoto. Dimana beliau mampu mentransformasikan konsep Islam dalam komuntias politik apapaun ideologi mereka. Dan jika melihat anggota PSII yang didalamnya terdapat kaum moderat ataupun konservative, baik di kalangan muslim perkotaan (yang dibesarkan didalam sekolah belanda) atau muslim pedesaan (yang dibesarkan didalam sekolah pesantren), sedangkan tulisan-tulisan HOS Cokroaminoto sebagai Presiden PSII menjadi bacaan wajib bagi seluruh anggotanya. tidak pernah ulama diantara mereka mempunyai permasalahan dalam memahami kedua term tersebut. Memperlihatkan bagaimana kondisi saat ini terjadi kemunduran kualitas ilmu yang signifikan diantara para aktifis islam.

[1] P.F. Dahler dalam Kholid O. Santosa pada tulisan pembuka “HOS. Tjokroaminoto: Raja Jawa Yang Tak Bermahkota pada buku Islam dan Sosialisme Tjokroaminoto, (Bandung: Sega Arsy, 2008), hal. vii.

[3] HOS. Tjokroaminoto, Islam Dan Sosialisme (Bandung: Sega Arsy, 2008), hal. x.

[4] Ibid, hal. x.

[5] Ibid, hal. xi.

[6] Ibid, hal. xi.

[7] Ibid, hal. 8

[8] Ibid, hal. 32.

[9] Ibid, hal. xiii.

Tinggalkan Komentar...